Lebih Dekat dengan Lulu, Playmaker Area Jabodetabek

Lulu demikian kami biasa menyapanya dan ia adalah playmaker area Jabodetabek,  salah satu lulusan yang moncer dari Academy Smart Finance. Diusianya yang masih belia ia telah mampu menjadi pengatur “aplikasi” di area Jabodetabek.

playmaker area jabodetabek
pixabay.com

Memastikan setiap cabang yang ada di bawahnya mendapat asupan aplikasi. Menurutnya suksesnya tim tak lain dan tak bukan bila seluruh tim mendapat insentif tanpa kecuali.

Menjadi tantangan tersendiri pastinya, bagaimana ia harus membina hubungan baik dengan rekan satu tim dan mitra para pemberi aplikasi. Dikatakan sebagai playmaker karena memang tugasnya tak lain dan tak bukan layaknya Lionel Messi.

Pemain berjuluk Si Kutu ini begitu apik membuktikan taringnya. Baik saat ada di tengah lapangan maupun di depan jala lawan.

Playmaker Area Jabodetabek

Ibarat kata, mereka yang bertugas mensuplai bola dari tengah ke depan dan melakukan kontrol permainan adalah seorang playmaker. Maka dapat dikatakan bahwa Lulu adalah salah seorang playmaker area Jabodetabek.

Orang yang miliki kontrol untuk memastikan cabang-cabang yang ada di bawahnya untuk mencapai target dengan sempurna. Bila ada satu cabang yang kurang perform maka bisa diduga kinerjanya kurang baik.

Menjadi bahan evaluasi untuk menjaga seluruh tim dalam kondisi baik-baik saja. Jangan sampai ada yang over load dan sebaliknya ada yang minim aplikasi.

Pun demikian dengan Lulu, bagaimana ia memastikan akan mengontrol seluruh aplikasi yang masuk hingga tuntas. Melibatkan seluruh tim tanpa kecuali bahwa kesuksesan itu bisa diraih  dengan kerja sama tim.

Awal Mula Terjun Sebagai Sales Marketing

Mengawali kisah, sejatinya ia pun tidak menyangka bila akan sukses sebagai sales marketing. Sebagai perempuan desa yang merantau ke ibukota berbekal ijasah SMK ia pun bekerja di pabrik.

Selama hampir 4 tahun bekerja di kawasan industri ia pun tak berdiam diri. Kala selesai bekerja ia pun melanjutkan kuliah. Satu kegiatan yang cukup diapresiasi pastinya dimana banyak orang ketika sudah mendapat uang enggan meneruskan pendidikan.

Setelah menuntaskan pendidikan S1 ia pun mencoba mengadu nasib. Mencoba peruntungan untuk berkarir di kantor. Berharap dengan pendidikan yang lebih baik akan miliki kesempatan dan karir yang lebih cemerlang.

Di perusahaan pertama ini ia bekerja sebagai customer servise. Sebagai karyawan yang harus sigap menerima tamu dan memberikan informasi terkait produk perusahaan.

Di tempat ini pula ia kali pertama merasakan ada satu pekerjaan yang begitu menyenangkan. Dimana dengan bertemu banyak orang yang didapat bukan hanya gaji semata.

Lebih dari itu ia juga bisa mendapat insentif. Satu pendapatan yang tak terduga di luar gaji pokok bila mana ia bisa menjual produk perusahaan lebih banyak.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, dimana dalam satu kesempatan ia bisa bergabung menjadi salah satu bagian dari tim marketing. Ditempat inilah kemampuan untuk menjadi seorang sales marketing lebih teruji.

Tak ingin mencukupkan diri hanya sebatas sebagai marketing maka ia pun memutuskan resign. Berharap dapat tempat yang bisa memfasilitasi ambisinya untuk menjadi marketing yang handal.

Bekerja bukan hanya sebatas untuk uang saja. Di dalamnya masih ada yang namanya pengembangan diri atau karir yang harus dikejar.

Berawal dari Smart Leadership Development Program

Pada awalnya Smart Leadership Development Program (SLDP) ini bernama Management Trainee Program (MTP). Satu program percepatan karir yang harus diambil oleh para anak muda.

Apapun latar belakangnya selama ada keinginan untuk berkembang maka ia pun akan bisa merintis karir lebih cepat. Berbeda dengan mereka yang masuk lewat jalur biasa, melalui jalur ini maka setiap orang sudah sejak awal akan disiapkan untuk menjadi seorang pemimpin.

Di program inilah kemampuan yang ada semakin terasah. Bagai sebuah pisau dengan perlakuan yang tepat maka ia akan lebih tajam dari sebelumnya.

Di program ini mindset-nya semakin terbentuk. Bila pada awalnya hanya tahu tentang praktik di lapangan maka ia pun tahu kenapa harus demikian. Konsep-konsep yang semakin mengokohkan kuda-kudanya sebagai seorang marketing.

Kepada semua anak muda, para fresh graduate ia pun berpesan. Jangan sampai tidak ambil kesempatan untuk bergabung dengan Smart Leadership Development Program karena ini adalah salah satu jalan ninja untuk menjadi seorang pemimpin.

Benar, SLDP adalah jalur percepatan karir tapi proses tidak bisa dibeli dan harus dilakukan sendiri. Sadar betul diusianya yang masih muda dan harus memimpin mereka yang lebih senior memaksa peserta SLDP untuk naikkan jam terbang.

Caranya cukup lakukan lebih banyak dan lakukan lebih baik. Bagaimana ia sebelumnya miliki target dalam waktu 6 bulan harus menjadi seorang supervisor dan ia pun membuktikannya.

Menjadi menarik bila ia selalu mengatakan, siapapun itu harus ‘bangun.’ Bukan hanya bangun dalam arti sebenarnya tapi ia juga harus bangun dan wujudkan mimpi.

Membuat target secara terukur untuk jangka pendek dan jangka panjang. Jangan sampai semua berlalu dan begitu saja.

Hidup itu harus miliki target, sama halnya dalam dunia marketing dimana semuanya juga harus ada target. Tak ada alasan bagi seorang marketing untuk gagal karena gagal maka ia belumlah miliki jiwa marketing.

Benar saja tak perlu waktu lama maka kini ia telah berada satu level di bawah branch manager. Tinggal sedikit lagi untuk menjadi top level di cabang.

Suka Duka Karir Lebih Cepat

Jangan harap bahwa mereka yang miliki karir cemerlang hanya miliki cerita bahagia semata. Mereka ini juga pastinya menemukan masa-masa kurang mengenakkan.

Bagaimana tanggapan orang lain di awal yang bisa jadi under estimate atau tidak yakin apakah anak bau kencur ini mampu. Semua itu harus dijawab dengan pembuktian secara langsung.

Percaya bahwa hidup itu tidak akan lurus saja, tapi harus yakin semua akan baik-baik saja. Jangan pernah takut dengan proses karena itu yang akan mendewasakan.

Syarat untuk Menjadi Seorang Marketing

Menurut Lulu sejatinya untuk menjadi seorang marketing cukup memiliki 2 kompetensi utama. Dan selebihnya hanyalah bonus semata.

Dua syarat tersebut adalah:

1. Percaya Diri untuk Menawarkan

Marketing itu harus miliki rasa percaya diri yang cukup. Bila tidak bisa jadi ketemu satu, dua orang dan ditolak kemudian menyerah.

Lain dengan mereka yang percaya diri dan merasa yakin, pasti bisa. Sebanyak apapun tolakan yang akan diterima maka ia akan terus maju ke depan.

Menurutnya saat ini dengan adanya teknologi digital semua kian dimudahkan. Tidak harus tatap muka secara fisik. Paling penting adalah informasi bisa diterima dengan baik oleh calon konsumen.

Bahkan dalam follow up aplikasi ia akan terus bersikukuh untuk terus maju hingga diblokir. Bila pemblokiran ini belum terjadi maka kesempatan itu akan tetap ada.

2. Menguasai Produk

Apapun produknya, seorang marketing wajib menguasai produk yang ia jual. Memahami dengan baik kelebihan atau keunggulan dari produk yang ada.

Meyakinkan calon konsumen bahwa produk dimiliki adalah tetap yang terbaik. Percaya bahwa perusahaan hanya akan menelurkan produk terbaik yang bisa diterima masyarakat luas.

Tak ada yang sempurna itu pasti, meski ada beberapa calon konsumen yang membandingkan dengan produk kompetitor maka ia tak ambil pusing. Fokus dengan kelebihan itu jauh lebih baik.

Sama halnya dengan hidup dimana bisa jadi kelemahan itu akan lebih terlihat. Tinggal bagaimana menyikapi dengan bijak.

Penasaran ingin sukses di usia muda dan bisa jadi kamu yang ada di Jakarta kelak menggantikannya sebagai playmaker area Jabodetabek. Buruan gabung dengan Smart Leadership Development Program.

Give a Comment